Kamis, 12 November 2015

(17/48) Beberapa Peristiwa Setelah Perang Badar Al Kubra | Sejarah Nabi Muhammad



Perang Bani Sulaim

Tujuh hari kemudian, beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berangkat memerangi Bani Sulaim. Beliau sempat tinggal di sana tiga hari lamanya, kemudian kembali lagi, dan tidak sempat terjadi peperangan. Beliau menugaskan Sibaa’ bin ‘Urfuthah untuk memimpin Madinah selama beliau pergi. Ada yang mengatakan Ibnu Ummi Maktum.



Perang As Sawiq

Saat Abu Sufyan kembali ke Mekkah, dan para sahabatnya sudah betul-betul merasakan trauma karena perang Badar, Abu Sufyan justru bernadzar tidak akan membasahi kepalanya dengan air sebelum kembali memerangi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam. Akhirnya ia keluar dengan membawa 200 pasukan berkuda. Ia singgah di ujung wilayah Al Uraidh dan menginap satu malam di perkampungan Bani Nadhir, di rumah Salam bin Misykam yang langsung menjamunya dan memberitahukan kepadanya kondisi kaum muslimin. Di pagi harinya bersama para sahabatnya, ia memerintahkan untuk menebang pohon-pohon kurma dan membunuh seorang lelaki Anshar, bahkan termasuk pemuka di daerah itu, kemudian mereka kabur melarikan diri.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mempunyai nadzar yang sama yakni keluar mengejar Abu Sufyan bersama kaum muslimin. Mereka sampai di Qarqarah Al Kudr, namun Abu Sufyan dan kaum musyrikin lainnya sudah lolos. Hanya saja mereka sempat mendapatkan banyak perbekalan yang ditinggal pergi, yakni gandum. Oleh sebab itu, peperangan ini disebut peperangan sawiq atau perang gandum. Itu terjadi di bulan Dzulhijjah pada tahun yang sama. Kemudian beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pulang ke Madinah, setelah sebelumnya menugaskan Abu Lubabah untuk memimpin kota sementara waktu.


Perang Dzu Amrin

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam menghabiskan sisa waktu bulan Dzulhijjah di Madinah saja. Baru kemudian beliau melakukan perang Najd untuk menyerang Ghathafan. Saat itu beliau mewakilkan kepemimpinan Madinah kepada Ustman bin Affan. Di Najd, beliau sempat tinggal selama bulan Shafar di tahun tersebut, baru kemudian pulang lagi tanpa mengalami pertempuran.


Perang Buhran

Di bulan Rabi’ Al Akhir, beliau Shalallahu ‘Alaihi wa sallam ingin menyerang Quraisy, dan mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai wakil di Madinah. Beliau sampai di Buhran dan juga wilayah Ma’dinan di Hijaaz, lalu kembali pulang tanpa mengalami pertempuran.


Perang Bani Qainuqaa'

Bani Qainuqaa’ yaitu salah satu kelompok kaum Yahudi di Madinah, mengingkari perjanjian. Mereka rata-rata berprofesi sebagai tukang kayu dan emas. Jumlahnya kira-kira 700 personil. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar untuk mengepung mereka, di Madinah beliau menugaskan Basyir bin Abdul Mundzir. Beliau mengepung mereka selama 15 malam, sampai akhirnya mereka menyerah dan mengikuti keputusan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Abdullah bin Ubay bin Salul membela mereka setelah sebelumnya mendesak Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebab sebelumnya mereka adalah sekutu bagi kaum Khazraj, sedangkan dia adalah pemimpin suku itu. Mereka tinggal di pinggiran kota Madinah.


Terbunuhnya Ka'ab bin Al Asyraf (Tokoh Yahudi)

Ka’ab bin Al Asyraf Al Yahudi adalah seorang lelaki dari Tha-i. Ibunya berasal dari Bani Nadhir. Ia selalu menyakiti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum mukminin dan mencela wanita-wanita mukminat dengan syair-syairnya. Seusai perang Badar, ia pergi ke Mekkah dan mulai melecehkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum mukminin.

Rasulullah dan kaum muslimin berniat membunuhnya. Beliau bersabda: “Siapa yang bersedia menghabisi Ka’ab bin Al Asyraf? Ia telah mengganggu Allah dan RasulNya.” Beberapa orang lelaki dari Anshar maju, juga dari Aus. Mereka adalah Muhammad bin Maslamah, Abbad bin Bisyr bin Waqs dan Abu Naa-ilah, namanya Silakan bin Salamah bin Waqsy, yang terakhir ini adalah saudara sesusuan Ka’ab bin Al Asyraf, lalu Harits bin Aus bin Muadz serta Abu Abs bin Jabr. Rasulullah mengijinkan mereka untuk melontarkan ucapan apapun dalam upaya memperdayai Ka’ab. Mereka tidak berdosa melakukan itu. Akhirnya mereka semua pergi mencarinya. Pada suatu malam, mereka berhasil memancing Ka’ab keluar dari rumahnya. Mereka sengaja mengucapkan kata-kata yang seolah menyindir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga Ka’ab merasa senang kepada mereka. Saat mendapatkan kesempatan, mereka langsung membunuhnya, semoga Allah melaknatnya. Saat itu adalah malam bulan purnama. Mereka datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang saat itu sedang shalat. Usai shalat, Rasulullah mendo’akan mereka.

Al Harits bin Aus sempat terluka karena pedang teman-temannya sendiri. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meludahi lukanya tersebut dan langsung sembuh saat itu juga. Kemudian di pagi harinya, masyarakat Yahudi membicarakan soal pembunuhan tersebut. Akhirnya Rasulullah mengijinkan kaum muslimin untuk memerangi orang-orang Yahudi (Bukhari: 4037, Muslim: 1801)


Oleh : Ibnu Katsir
bersambung in sya Allah .....


Sumber : Pustaka AtTibyan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar